Kesaksian Renungan Indah Tentang Jalan Tuhan

Kesaksian Renungan Indah Tentang Jalan Tuhan

Kesaksian Renungan Indah Tentang Jalan Tuhan

Chaplain For Christ. – Pada suatu malam yang membuat saya sangat gelisah. Tidak bisa tidur yang hanya ada di pikiran saya tentang bekerja ekstra keras. Untuk bagaimana cara nya mendapatkan uang yang banyak hingga larut malam saya maih tidak bisa memecahkan permasalahan yang sedang saya hadapi. Hingga pada sore hari saya mendapatkan sebuah kabar berita dari rumah sakit ditempat adik saya berobat. Namun Menurut sang dokter jalan satu-satunya untuk menghambat penyebaran kanker payudarah yang sedang di alami adik saya adalah dengan memotong kedua payudarah miliknya. Namun untuk melakukan itu membutuhkan persetujuan saya terlebih dahulu karena membutuhkan sejumlah biaya untuk melakukan operasi tersebut.

Dari awal memang saya sudah sangat siap untuk menghadapi kondisi terburuk saat itu. Sejak awal dokter sudah menjelaskan tentang bagaimana resikonya kehilangan payudara tersebut. Resiko itu sudah sangat saya pahami adik saya juga sudah sangat mempersiapkan diri untuk menghadapi kondisi terburuk itu. Namun yang sangat membuat saya tidak bisa tertidur adalah. Mengenai soal biaya dengan jumlah yang sangat besar untuk permasalahan pembayaran. Namun dengan gaji saya sebagai redaktur suratkabar tidak akan mampu untuk menutupi biasa sebanyak itu ditambah lagi saya harus menghidupi keluarga dan tiga anak. Karena sudah hampir lima tahun adik saya hidup sendiri tanpa ada pendamping  hidup di samping nya. Dengan segala kamampuan yang terbatas saya tetap akan berusaha untuk membantu adik saya agar dapat bertahan hidup. Selain jumlah uang saya juga mendukungnya secara moril Dalam kehidupan sehari-hari. Saya berperan sebagai pengganti ayah dari anak anak adik saya.

Dalam situasi seperti itu adik saya sudah divonis menderita kanker stadium empat. Saya baru menyadarinya karena selama ini kaka saya mencoba menyembunyukan penyakit tersebut. Mungkin karena adik saya juga berusaha untuk melawan ketakutanya dengan mengabaikan gejala-gejala kanker yang sudah sangat dirasakanya selama ini. Kalau memikirkan hal tersebut saya sering menyesalinya. Seandainya adik saya lebih jujur dari awal dan  berani mengungkapkan kecurigaanya pada tanda-tanda awal kanker payudara, Mungkin keadaan nya tidak akan menjadi seperti ini. Tetapi apa mau di kata keadaan sudah seperti ini pada saat itu saya akhirnya memaksa dan memsatikan dia untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis kanker ganas karena di payudaranya sudah pada kondisi tidak tertolong lagi.

Saya menyesali tindakan adik saya yang sudah lama menyembunyikan penyakit itu dari saya tetapi belakangan setelah kaka saya tiada saya bisa memaklumi keputusanya. Saya bisa memahami mengapa kaka saya menghindar dari pemeriksaan dokter. Selain dia sendiri tidak siap menghadapi kenyataan, adik saya juga tidak ingin menyusahkan saya yang selama ini sudah banyak membantunya. Namun ketika keadaan yang terburuk itu terjadi toh saya harus siap menghadapinya. Salah satu yang harus saya pikirkan adalah mencari uang dalam jumlah yang disebutkan dokter untuk biaya operasi.

Otak saya sudah benar-benar buntu Hingga sampai jam 3 pagi saya tidak juga menemukan jalan keluar. Dari mana saya akan mendapatkan uang sebanyak itu. Bahkan yang membuat saya makin stress lagi terkadang dalam keputus-asaan saya teringat ucapan adik saya yang tidak ingin melakukan operasi pada saat dokter menganjurkan untuk melakukan operasi. Toh kata adik saya tidak ada jaminan juga bahwa adik saya akan terus hidup. Karena di balik ucapan adik saya itu saya mengetahuinya bahwa adik saya tidak ingin membebani saya tentang biaya operasi yang cukup besar itu.

Pada pagi dini hari setelah saya sudah tidak mampu lagi menemukan jalan keluar lalu saya berlutut dan  berdoa di tengan kesunyian pagi saya mendengar begitu jelas doa yang saya panjatkan. ” Tuhan sebagai manusia akal pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah ini. Karena itu pada pagi hari ini aku berserah dan memohon Kepada-Mu kiranya Engkau dapat membuka jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar untuk persoalan ini”

Pagi hari, mulai dari bangun, mandi, sarapan, hingga perjalanan menuju kantor otak saya kembali bekerja. Mencari pemecahan masalah cost operasi. Dari tempat mana saya beroleh uang? Adakah Tuhan dengerin doa saya? Fikiran serta hati saya bercabang. Di satu bagian saya telah berserah serta percaya Tuhan mau buka jalan, namun di beda bagian rupanya iman saya kurang kuat hingga masih tetap saja gundah.

Di dalam kondisi sesuai sama itu, handphone saya berdering. Di ujung telepon terdengar nada teman baik saya yang bekerja di suatu perusahaan public relations. Dengan nada memohon dia memohon kesediaan saya jadi pembicara dalam suatu workshop di suatu bank pemerintah. Dia menyebutkan sangat terpaksa menelepon saya karna ” situasi darurat “. Pembicara yang semestinya nampak besok, mendadak berhalangan. Dia memohon saya bisa menggantikannya.

Karna hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi keinginan teman baik saya itu. Singkat kata, semuanya jalan lancar. Acara worskshop itu berhasil. Sahabat saya tidak henti-henti katakan terima kasih. Terlebih, ujarnya, beberapa peserta suka. Bahkan juga pihak bank memohon supaya saya dapat jadi pembicara sekali lagi untuk acara-acara mereka yang beda. Sebelum meninggalkan tempat workshop, rekan saya berikan saya amplop di isi honor menjadi pembicara. Benar-benar tidak terpikirkan terlebih dahulu masalah honor ini. Saya benar-benar cuma punya niat menyelamatkan teman baik saya itu. Tapi teman baik saya memohon supaya saya ingin menerimanya.

Di dalam perjalanan pulang hati saya masihlah kuatir. Rasa-rasanya tidak enak terima honor dari teman baik sendiri untuk pertolongan yang menurut saya telah semestinya saya kerjakan menjadi teman baik. Tapi pada akhirnya saya berdamai dengan hati saya serta coba mengerti jalan fikiran teman baik saya itu. Malam hari baru saya berani buka amplop itu. Begitu terkejutnya saya lihat angka rupiah yang terdaftar di selembar check didalam amplop itu. Jumlahnya sama persis dengan cost operasi kakak saya! Tidak kurang serta tidak lebih satu sen juga. Sama persis!

Mata saya berkaca-kaca. TUHAN, Engkau memanglah fantastis. Engkau Maha Besar. Dengan cara-MU, Engkau merampungkan persoalanku. Bahkan juga melalui cara yg tidak terduga meskipun. Langkah yang benar-benar ajaib!

Esoknya check itu saya serahkan segera ke rumah sakit. Setelah operasi, saya beritahukan peristiwa itu pada kakak saya. Dia cuma dapat menangis serta memberikan pujian pada kebesaran Tuhan. Kurang hingga di situ. Tuhan rupanya masih tetap menginginkan tunjukkan kembali kebesaran-Nya. Tanpa ada sepengetahuan saya, Surya Paloh, yang miliki harian Media Indonesia tempat saya bekerja, satu malam datang menengok kakak saya dirumah sakit. Walau sebenarnya sampai kini saya tidak sempat cerita masalah kakak saya. Saya baru tahu hadirnya Surya Paloh dari narasi kakak saya besok harinya. Dalam kunjungannya ke rumah sakit malam itu, Surya Paloh juga mengambil keputusan semuanya cost perawatan kakak saya, berapakah juga serta hingga kapan juga, mau dia tanggung. TUHAN Maha Besar!


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *